Salam damai sejahtera sebangsa setanah air.

Secara alamiah manusia dengan otaknya yang sangat kompleks adalah pembelajar. Sejak lahir manusia belajar dan belajar. Ketrampilan seorang anak beusia lima tahun adalah ketrampilan yang dipelajarinya secara bebas dan global. Tanpa buku, tanpa sekolah, tanpa tata bahasa, tanpa ujian, mereka lahir.

Mereka terus belajar sampai suatu saat, dikelas, gurunya bertanya tentang suatu hal. Keyakinan membuat seorang anak mengacungkan tangannya dengan semangat menjawab. Lalu sang guru menyatakan “Tidak benar, salah!!!” Rasa malu, menyesal, marah, segera saja menyelubungi, lalu didalam benaknya tertanam rasa “gagal”. Pertimbangan rasa gagal inilah yang setiap hari selalu bertambah dengan tumpuan komentar negative. Akhirnya manusia pembelajar itu menolak belajar dan mandek.

Menurut Jack Canfield, pakar masalah “Self Confidence”, anak-anak rata-rata menerima 460 komentar negative atau kritik dan 75 komentar positif atau dukungan setiap hari. Saat ini belajar yang menyenangkan menjadi larut berganti dengan belajar teratur, kaku, linear dan membosankan.

Manusia yang belajar pada saatnya akan menghasilkan suatu output nyata berupa karya cerdas, berupa kata, ucapan, bunyi, tulisan atau karya berbentuk. Makin banyak belajar, makin tepat cara belajarnya, makin cerdas seseorang, makin bermutu karyanya.

Lingkungan sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Ada berbagai tekanan dan keragaman sikap dan keadaan telah banyak mempengaruhi seseorang untuk belajar dan mengajar dengan baik. Sikap yang mengurung seseorang sehingga tidak dapat optimal menjadi manusia pembelajar adalah :

  1. Tidak suka tantangan
  2. Tidak Suka petualangan
  3. Tidak suka suasana gembira
  4. Tidak suka hal-hal baru.

Mengapa demikian? Akar persoalannya adalah takut. Takut inilah sebenarnya yang membuat seseorang mandek dalam belajar ataupun mengajar.

  1. Takut gagal
  2. Takut ditolak
  3. Takut keluar dari zona amannya
  4. Takut mengambil resiko

Mengapa tidak kita atur langkah kita dengan menyesuaikan atau memanfaatkan cara kerja otak kita? Menurut OTTO otak akan kita baru tersentuh 4% dalam proses pembelajaran berarti masih mungkin untuk meningkatkannya sampai 100% dengan latihan dan pendidikan. Kurang lebih 16 tahun masa belajar yang terkesan monoton dan penuh tekanan harus di imbangi dengan pembelajaran baru, pembelajaran modern dengan sadar memanfaatkan secara optimal fungsi otak kiri dan otak kanan.

Strategi pembelajaran dapat dimulai dengan menata lingkungan, membentuk suasana belajar yang aman dan nyaman. Melengkapi strategi  pembelajaran dengann teknik-teknik yang “Friendly user”, mudah dan tidak menakutkan, tetapi juga efektif dan efisien. Memberi dorongan positif harus menjadi suatu keharusan. Dengan tidak  henti-hentinya memupuk mental juara, Memberikan wadah kreatifitas yang bebas akan memicu kegairahan yang luar biasa. Kesadaran memanfaatkan fungsi otak kiri dan otak kanan yang seimbang akan menghasilkan lompatan berenergi menemukan cara baru yang kreatif.

Ledakan informasi melalui media Koran, tabloid, buku, televisi, bahkan internet tidak lagi terbendung, seseorang dapat tertegun  melihat semua ini lalu meneriakan (Gawat, Mengerikan, Kritis) tetapi pada saat bersamaan dapat bersukacita  karena informasi global akan menambah wawasan yang penting untuk melangkah. Otak kita yang beratnya tidak lebih dari 1 kg ternyata tetap bersukacita menerima informasi sebanyak apapun. 

Masalahnya adalah bagaimana menyimpan memory sebanyak ini dalam waktu yang singkat? Serta memanggilnya kembali saat diperlukan?

salam,

Be smart be creative